
Bahwa sesungguhnya hakekat hidup itu berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing menuju kesempurnaan, demikianpun kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan yang terutama, hendak menuju keabadian kembali kepada Causa Prima titik tolak segala sesuatu yang ada, melalui tingkat ke tingkat namun tidak setiap insan menyadari bahwa apa yang dikejar-kejar itu telah tersimpan menyelinap di lubuk hati nuraninya.
SETIA HATI sadar meyakini akan hakiki hayati itu dan akan mengajak serta para Warganya menyingkap tabir/tirai selubung hati nurani dimana "SANG MUTIARA HIDUP" bertahta.
Pencak Silat salah satu ajaran SETIA HATI dalam tingkat pertama berintikan seni olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dan kebenaran terhadap setiap penyerang.
Dalam pada itu SETIA HATI sadar dan yakin bahwa sebab utama dari segala rintangan dan malapetaka serta lawan dari kebenaran hidup yang sesungguhnya bukanlah insan, makhluk atau kekuatan yang diluar dirinya. Oleh karena itu Pencak Silat hanyalah suatu syarat untuk mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal diri pribadi.
Maka SETIA HATI pada hakekatnya tanpa mengingkari segala martabat-martabat keduniawian, tidak kandas/tenggelam pada jajaran Pencak Silat sebagai pendidikan ketubuhan saja, melainkan lebih menyelami kedalam lambang pendidikan kejiwaan untuk memiliki sejauh-jauh kepuasan hidup abadi lepas dari pengaruh rangka dan suasana.
Sekedar syarat bentuk lahir, disusunlah Organisasi dalam rangka "Persaudaraan Setia Hati Terate", sebagai ikatan antara saudara "SETIA HATI" dan lembaga yang bergawai sebagai pembawa dan pemancar cita.
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berawal dari Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo yang mendirikan cikal bakal bernama Sedulur Tunggal Kecer (1903) di Surabaya, lalu berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati (PSH) di Madiun (1917). Kemudian, pada tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo mendirikan SH PSC di Madiun untuk membentuk pelatihan pemuda melawan penjajah, yang menjadi cikal bakal PSHT saat ini, dan resmi berubah nama menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate pada kongres 1951.
1903: Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo mendirikan Sedulur Tunggal Kecer (kemudian menjadi PSH) dengan ilmu pencak silat gaya Djojo Gendilo Tjipto Muljo.
1917: Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo pindah ke Madiun dan mendirikan Persaudaraan Setia Hati (PSH) di Winongo.
1922: Ki Hadjar Hardjo Oetomo, murid Ki Ageng Surodiwirjo, mendirikan Setia Hati Pemuda Sport Club (SH PSC) di Madiun sebagai wadah pergerakan nasional.
1942: SH PSC dianggap sebagai tempat pelatihan melawan penjajah, sehingga sempat ditutup Belanda.
1948/1951: Dalam kongres pertama di Madiun, nama SH PSC resmi diubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo: Pendiri cikal bakal PSH.
Ki Hadjar Hardjo Oetomo: Pendiri SH PSC (cikal bakal PSHT), pejuang pergerakan nasional.
RM Soetomo Mangkudjojo: Mengusulkan perubahan nama menjadi PSHT dan menjadi Ketua Pusat pertama setelah organisasi berdiri.
PSHT berkembang menjadi organisasi pencak silat yang mengedepankan persaudaraan, bela diri, olahraga, seni, dan spiritualitas, dengan tujuan mencetak manusia berbudi luhur.
Artikel sedang dalam pengawasan pengurus Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Paser,
Melestarikan budaya bangsa dan membentuk manusia yang mampu mengasah budi, membersihkan keburukan di bumi, dan menciptakan kedamaian dunia (mamayu hayuning bawana).
Selama matahari terbit dari timur, selama bumi masih dihuni manusia, dan selama itulah Persaudaraan Setia Hati Terate akan abadi jaya selamanya

Anda dapat menemukan informasi terbaru mengenai kami pada halaman ini. Perusahaan kami terus berkembang dan berevolusi. Kami menyediakan beragam layanan. Misi kami adalah menyediakan solusi terbaik yang dapat membantu semua...